Empat tahun sudah saya masuk ke dunia PNS, dan selama empat tahun ini, banyak kejutan-kejutan yang ditemui. Selain harus bersusah payah "adapt" dengan teknologi yang jauh ketinggalan, ternyata kawah candradimuka yang satu ini benar-benar merupakan kawah yang terus menerus bergolak. Ternyata dunia yang satu ini tidak seteduh kelihatannya. PNS bukan sekedar datang, makan, BBS, selingkuh, loan di bank/koperasi, dan gajian tiap awal bulan. Intrik-intrik mulai dari yang paling halus sampai main kayu pun ada. Ini sangat mengejutkan saya, karena role model PNS selama ini adalah mama yang notabene sangat tidak peduli dan tipikal PNS sejati.
Hal pertama yang saya pelajari adalah (maaf) kurangnya SDM yang memadai. Suka atau tidak suka, hal ini membuat banyak urusan administrasi terbengkalai. Bayangkan, sebuah SKPD (satuan kerja perangkat daerah) sampai harus membayar tenaga honor hanya agar bisa mengoperasikan sebuah komputer. Itu pun hanya terbatas di MS Word karena si "expert" sangat tidak menguasai MS Excel, sehingga untuk menjumlah tetap menggunakan kalkulator. It shocked me a lot, what kind of world is this actually? Syukurlah, sekarang ini, dengan semakin bertambahnya PNS baru, semakin banyak orang yang melek komputer sehingga urusan "perkertasan" ini bisa semakin lancar.
Hal kedua adalah betapa banyaknya kertas yang terbuang. Kayaknya PNS merupakan pekerjaan yang paling banyak menyumbang global warming karena paling banyak menebang pohon. Tagihan yang masuk harus rangkap 6, belum lagi kalau salah. Semua menggunakan hard copy, dan dibuat berangkap-rangkap. Saya bingung, apakah teknologi soft copy sama sekali tidak bisa digunakan, sehingga tidak perlu membuang berlembar-lembar kertas untuk laporan yang akhirnya salah semua. Kenapa tidak mempergunakan e-mail saja untuk tagihan, laporan, dll yang pasti lebih gampang disimpan dan tidak menyita banyak ruang? Masa' sih pegawai negeri merupakan pekerjaan yang memerlukan alih teknologi paling lama?
Hal ketiga yang paling membingungkan dan lucu bagi saya adalah rebutan jabatan. Dimana-mana rebutan jabatan itu biasa, tapi kayaknya tidak sedahsyat ini. Hanya demi jabatan, orang sampai harus berhutang dan menyogok, padahal ada oknum-oknum yang sama sekali tidak qualified. Gilanya lagi, ada pihak-pihak yang dengan senang hati menerima bayaran tersebut. Ya Tuhan, mau jadi apa negeri ini? Mungkin saya utopia, menginginkan suatu negeri khayalan yang serba sempurna. Saya selalu berdoa agar waktu tidak bisa mengubah idealisme saya, karena saya tidak mau seperti itu. Dear readers, please remind me if someday I turned to be one of them.
Selasa, 09 Februari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)