Sabtu, 06 April 2013

Ketika kebijakan tidak lagi bijak


Akhir-akhir ini, kata "kebijakan" mengaung-ngaung di dalam telinga saya. Jangan tanya mengapa, karena saya juga gak ngerti  dan kayaknya ngak bakal bisa mengerti alasannya. Mungkin karena kata ini sering kali saya dengar, mungkin tiap hari sampe-sampe kalau mungkin saya lagi hamil, anaknya bakal dinamai "kebijakan", hehehehe....
Guru bahasa Indonesia saya dulu mengajarkan kalo  kata dasar dari kebijakan adalah bijak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bijak itu artinya selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir. Dan menurut dongeng-dongeng yang saya dengar atau baca waktu kecil dulu, orang yang bijak itu biasanya para jagoan atau tokoh protagonis. Tapi kok sekarang kebijakan itu artinya jadi agak beda ya?
Bagi saya, kebijakan sekarang artinya jadi menjurus ke "excuse" atau alasan yang bisa membuat sesuatu yang kurang bisa diterima menjadi bisa diterima. Hanya dengan alasan kebijakan, maka hal-hal yang tidak pantas, akan bisa di-up grade menjadi pantas. Dunia macam apa ini??
Ah, saya jadi rindu dengan tokoh raja yang bijak, pendeta yang bijak, pendekar yang bijak, orang tua yang bijak, kancil yang bijak, yang pasti putih dan bukan bijak abu-abu yang lebih sering (terpaksa) saya geluti sekarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar